BENDA ANTIK ORISINIL, VINTAGE DAN KONTEMPORER. -------------------------------------------------------- "Semua sentuhan, keringat, debu dan cuaca, meninggalkan jejak tanda kehidupan, menciptakan nyawa ,,," - FILOSOFI PATINA ................................................................................................ patinantik@gmail.com ......+62-878-3901-8182
Showing posts with label FURNITURE. Show all posts
Showing posts with label FURNITURE. Show all posts
September 1, 2015
DUTCH EAST INDIES CAMPAIGN DESK
MEJA 'LAPANGAN' NEDERLANDS-INDIE
Kayu jati berpelitur
1850 - 1900, Jawa ( ? ), Indonesia
Marking stempel bakar ' DZ & Co '
85cm x 65cm, tinggi 89cm
Ada repair lama pada sudut bawah depan meja, ada pelitur ulang lama hanya pada bagian papan atas, ada 1 flex, sedikit cuil dan retak. Rantai pengait untuk mempermudah pemasangan sudah tak ada.
Meja yang biasanya dibawa diatas pelana kuda, dipergunakan untuk kebutuhan militer di medan tempur. Oleh komandan atau panglima pasukan meja ini berfungsi untuk meja makan, tulis menulis atau mengatur strategi. Beredar di era Victorian, meja ini menjadi langka di abad 20, karena hancur dalam pertempuran atau diabaikan karena berubahnya pola kebutuhan militer sesuai perkembangan jaman.
Ukuran meja jenis ini umumnya tidak besar, kebanyakan lebih kecil dari meja ini karena memperhitungkan faktor kepraktisan dan mobilitas tinggi. Berbeda dengan meja "campaign' abad 20 yang berukuran standar meja tulis, karena fungsinya bukan untuk militer, hanya design bentuknya saja yang mengadaptasi meja 'campaign' era Victorian.
Hal yang membuat meja ini menjadi baik bukan hanya keunikan fungsi dan kelangkaannya saja, tapi pelitur yang sebagian besar masih asli adalah faktor penting lainnya. Pelitur pada furniture sangat menentukan persepsi originalitas suatu benda, karena dia adalah cover atau kulit dari benda itu sendiri, yang menyerap semua tanda perubahan waktu dan cuaca dalam rentang usia si benda.
Di Amerika sampai tahun 1960 - 1970 ada suatu persepsi sikap terhadap furniture, yaitu sikap untuk membuat semua benda yang dimiliki terlihat seperti baru, sama seperti seakan-akan baru selesai dibuat pada masanya. Semua patina dan tanda-tanda pemakaian di kerok habis dan dipelitur ulang. Suatu masa yang membuat Amerika kehilangan sebagian besar furniture orisinilnya, kehilangan yang masih ditangisi sampai sekarang oleh kolektor dan pencinta furniture disana.
Sampai detik inipun masih banyak toko antik disana yang mempelitur ulang semua benda yang dimiliki, hal ini tergantung pada kebiasaan, kebutuhan konsumen, kadar selera artistik / cita rasa dan tingkat intelektualitas individunya.
Menemukan suatu benda dengan patina dan oksidasi asli di Indonesia adalah susah-susah gampang, gampang : karena banyak sekali benda furniture antik kita yang tersembunyi atau diabaikan sehingga tak tersentuh untuk di 'bagus-bagusi' oleh pemiliknya. Susah : karena seringnya kerusakan oleh udara tropis yg lembab dan dalam proses revitalisasinya sering jatuh ketangan yang tidak memahami esensi dari originilitas benda itu sendiri.
Oleh karena itu, kalau kita masih menemukan suatu furniture dengan pelitur dan patina aslinya, cermati dan nikmatilah, karena itu adalah 'catatan' perjalanan waktu selama puluhan atau ratusan tahun.
Ref. sebagian dari 'The Big Book Of Antique Furniture' oleh David P. Lindquist & Caroline C. Warren
Zold - Surabaya
March 31, 2014
JAVANESE BETEL NUT TABLE BOX
MEJA KOTAK KINANGAN
Kayu sonokeling
1910 - 1940, Jepara / Jawa Tengah, Indonesia
49,5 cm x 32,5 cm. tinggi 55 cm
Benda terpakai dengan kondisi masih sangat baik, ada cuil kecil pada ukiran tapi tidak berarti, dan tali rantai penahan ada sedikit penambahan panjang karena yang lama putus / kurang.
Meja yang biasanya untuk menyuguhkan sirih-pinang pada tamu penting, selain fungsi juga ada unsur 'prestise' dan menunjukkan status di dalamnya. Lumayan langka, bisa menjadi 'sampel' sejarah perjalanan tradisi ukiran Jepara pada jamannya.
Walaupun sangat kental dengan unsur simbol Jawa-nya, tapi meja ini juga terasa Eropa sebagai konsekwensi dari adanya adaptasi bentuk fisik dan motif Eropa pada semua ukiran Jepara. Meja ini dulunya juga milik saudagar batik merk "Njonja Sing", milik peranakan Cina - Belanda di Jogjakarta. Semua ini menunjukkan betapa baik-nya asimilasi dalam mengapresiasi kebudayaan yang beragam di jaman dulu.
Kayu sonokeling termasuk kayu yang sangat dihargai sejak lama, termasuk keluarga "rosewood" sama seperti kayu Cina "huang hua li" atau trembalo. Tidak mudah mengerjakan kayu sonokeling karena tingkat kekerasannya yang lumayan tinggi, juga serbuknya bisa menyebabkan gatal dan iritasi pada para pengrajin kayunya. Sangat jarang menemukan benda dari kayu sonokeling dengan patina yang "gila-gilaan", karena kayu ini mempunyai tingkat ''durability / ketahanan '' yang sangat baik.
Zold-Surabaya
Labels:
FURNITURE,
SENI TRADISIONAL,
ZOLD
February 21, 2014
A PAIR JAVANESE ART NOUVEAU CHAIRS
# Pada kursi yang kiri ada repair lama pada pegangan lengan bawah kanan, dan 2 kaki depan ada siku penguat besi.
----------------------------------------------------------------------------------------------------
# Pada kursi yang kanan, di pangkal lengan kiri ada bekas pecah, di pangkal kanan ada bekas dempul pada kayu yang sudah pelos. Di ujung kiri-kanan pegangan kursi pas pada tekukan ada tambalan kayu. Tambalan yang kiri tidak ada 'tali air-nya'.
Tadi semua adalah repair-an lama.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
# Pada kursi yang kanan lagi, pada sandaran ada chip sedikit, pada bagian belakangnya ditiang sebelah kiri ada semacam dempul pada ujung yang pelos, mungkin dulu sering ter-adu dengan tembok belakangnya.
------------------------------------------------------------------------------------------------------
# Ujung kaki kursi ( mengingatkan pada 'sesuatu' ? ) kadang cukup efisien untuk mengetahui usia furniture, lama atau barang baru / repro. Tanda-tanda terpakai atau patina biasanya akan terlihat disini, ujung yang menahan beban selama puluhan tahun akan kelihatan padat dan tumpul, dan ada semacam warna / minyak yang lebih tua yang meresap keatas (dari kelembapan udara lantai). Oleh para pe-repro profesional disiasati supaya mendapat wujud fisik yang sama, kayunya dipukul atau ditumbuk berulang-ulang dengan benda keras. Buat anda yang teliti, kebohongan ini akan tetap terlihat, karena kayu yang dipukul kepadatannya hanya sebatas permukaan saja, tidak "dalam" dan terasa instan. Tapi diatas langit masih ada ozon, sekali dua kali, kita akan tertipu juga.
------------------------------------------------------------------------------------------------------
# Kursi "Semarangan" dengan lengan biasanya lebih besar dari pada kursi "Semarangan" tampa lengan, atau kursi makan, lumayan terasa beda besarnya. Hal yang sama berlaku untuk semua "gaya" kursi lainnya, antara yang berlengan dan yang tidak, walaupun kadang tidak terlalu jauh bedanya.
( kursi yang tampa lengan hanya sebagai pembanding saja, tidak / belum ditawarkan, masih milik juragan saya ).
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perbedaannya ada pada mahkota sandaran atas, juga pada kaki depannya, yang satu lebih ngangkang, satunya lagi lebih rapet.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sepasang kursi tamu "Semarangan".
Kayu jati dan rotan.
1930 - 1950. Jawa, Indonesia.
Lebar 55 - 56cm, kedalam 48 -49cm, tinggi 116cm.
Pelitur dan anyaman rotan sudah bukan aslinya, dikerjakan / diganti sekitar 8 - 10 tahun yang lalu.
Gaya "Semarangan" bisa dikatakan adalah bentuk 'penyederhanaan' secara teknis dari aliran Art Nouveau yang masuk ke Indonesia. Biasanya bentuk ornamen motif, sulur, bunga, dan lainnya cenderung lebih tidak berdimensi dibandingkan dengan motif sejenis dari ibu kandungnya di Eropa. Penggarapan dimensi motif hanyalah seperlunya saja, lebih mengutamakan permainan liuk lekuk, keluar masuk dan tebal tipis garis di ukirannya. Pada beberapa tahap malah lebih ekstrim, hanya bentuk flat, mirip mainan guntingan kertas lipat atau pola stensilan, mirip dengan bayangan atau siluet motif saja. Tampilan motif dengan mengambil intisari wujud siluetnya bukan hal baru bagi orang Jawa, yang terbiasa dengan wayang kulitnya. Jadi 'Semarangan' adalah hasil interpretasi orang Indonesia jaman dulu terhadap Art Nouveau dari luar, maka dari itu walaupun bukan kebudayaan tradisional, furniture gaya 'Semarangan' hanya ada di Indonesia, tidak seperti gaya furniture Eropa lain yang menyebar di banyak negara Asia.
Gaya 'Semarangan' secara 'sekenanya' dapat dibagi dalam 3 jenis, yang lebih ke Eropa, yang ada unsur 'Jawa'nya dan yang agak ke 'Cina-cina'an. Unsur Cina juga punya andil di 'Semarangan' terutama dengan 'tali air'nya. 'Semarangan' juga sangat konsisten dengan ide awal Art Nouveau, bahwa motif adalah kontempelasi dari unsur alam, biomorfis, jadi cenderung luwes dan elastis. Gaya Art Nouveau sangat jarang (kalau tidak mau dibilang tidak ada) bentuk motif yang patah-patah, geometrik, atau wujud realistis nyata sebagai motif. Wujud realistis sering tampil sebagai bentuk utamanya, tapi dengan segala elemen yang sudah dideformasi dalam pakem Art Nouveau, contohnya seperti kalau ada figur wanita, rambutnya terurai meliuk-liuk seperti tanaman / sulur, atau bunga tulip, tp tangkainya membentuk motif, intinya tidak ada bentuk realistik yang tampil apa adanya. Jangan selalu percaya dengan apa yang di tulis di Ebay, karena itu yang penting payu, open market, banyak (tidak semua) yang tidak ada tanggung jawab moral dan ideologinya.
Kembali kemasalah dagangan ( jadi pengen payu juga spt Ebay,,,), kursi ini dikoleksi sekitar 8 - 10 tahun lalu, sayang ketika didapat pelitur sudah dikerok, padahal pelitur jaman dulu sangat baik, dibuat sampai 4 -5 lapis, dan yang menyedihkan adalah jejak patina lawasnya ikut terhapus bersama peliturnya. Didapatkan sepasang, katanya hanya ada itu, tapi mungkin saja lebih. Kursi ini aslinya dulu memakai jok busa, kursi tamu istilahnya, tapi terasa lebih cocok yang menduduki hanya tuan rumahnya, tamunya silahkan ngedeplok dilantai saja.
Kedua kursi ini, tidak berikut meja dan perabot lainnya :
Zold-Jakarta
Labels:
ART NOUVEAU,
FURNITURE,
ZOLD
Subscribe to:
Posts (Atom)