Home

24 Januari 2017

JAVANESE HORN & SILVER TEASPOONS












6 BUAH SENDOK TEH TANDUK & PERAK JAWA
Tanduk kerbau dan perak
1930 - 1950an, Jogja, Indonesia
Panjang 16,7 cm x 2,5 cm
Ada 2 buah cuil pada 1 sendok dan lecet gripis pada 2 sendok, relatif masih baik

6 buah :
Rp 300.000,- / IDR

17 Januari 2017

2 CHINESE PORCELAIN TEACUPS












2 CANGKIR LUKIS PEREMPUAN
Porselen lukis enamel dan gild diatas glasir
1900 - 1940an, Jingdezhen, Cina
Salah satu marking : 'Chun Lin Ge Zhi'
Diameter 6,7 - 7 cm, Tinggi 5 - 5,5 cm
Benda terpakai, relatif masih baik dan utuh

Zold - KL

8 Januari 2017

ARISTIDE DE RANIERI BRONZE SCULPTURE

















PATUNG PERUNGGU DE RANIERI
Perunggu dengan patina warna hijau dan alas kaki marmer
1900 - 1920an, Paris, Prancis
Sign nama ; A. de Ranieri
Tinggi total 51 cm, diameter alas 16,3 cm
Masih baik dan utuh

Aristide de Ranieri seorang pematung berkebangsaan Italy, berasal dari Carrara, Tuscany, daerah yang terkenal dengan kualitas marmernya.
Hijrah ke Prancis pada 1890an seperti umumnya seniman Eropa yang mencari jatidiri dan berkarya di Paris, yang pada saat itu adalah pusat barometer seni seluruh dunia.

Tidak semua seniman berkapasitas dan beruntung menjadi seniman untuk seni murni, begitu juga de Ranieri, berasal dari keluarga pematung turun temurun, bakat seni mematungnya lebih banyak tersalur untuk kebutuhan seni konsumsi / pakai, bukan seni murni idealisme individual.

Beliau menyalurkan karyanya untuk di produksi oleh beberapa perusahaan di sekitar Paris seperti Alphonse Hanne dan Fontaine et Durieux. Kedua perusahaan ini banyak menampung seniman berbakat dan memproduksi / memperbanyak karya mereka untuk kebutuhan seni masyarakat Eropa.
Karya de Ranieri yang diproduksi biasanya terbuat dari perunggu dan keramik /terakota, setelah tahun 20an juga ada beberapa karyanya yang terbuat dari spelter / timah sari untuk konsumsi yang lebih terjangkau.

Identik dan mencapai ketenaran sebagai seniman pematung dengan genre Art Nouveau dan Art Deco, karyanya banyak dipengaruhi oleh 'dewa'nya Art Nouveau : Alphonse Mucha yang menonjolkan estetika feminisme kaum hawa.
Pada patung ini walau tidak terlihat sebagai Art Nouveau kental, tapi konsep estetika feminisme terlihat jelas pada lekuk anotomi dan pose tubuh. Unsur Art Nouveau masih terasa pada penataan gelombang ombak rambut, draperi baju dan komposisi dekorasi penataan bunga tanaman di dasar kaki.

Patung ini termasuk salah satu karya Ranieri yang cukup terkenal, kemungkinan berjudul ' Fille Au Chat '. Karya serupa antara satu dengan lain kadang ada sedikit-sedikit perbedaannya karena sistem cetak perunggunya terdiri dari beberapa potongan bagian yang terpisah. Ketika selesai tercetak, penyatuan bagian-bagian inilah yang kadang ada improvisasi.
Dan patung ini adalah pembuatan awal, terlihat dari detail yang lebih baik dari cetakan-cetakan berikutnya, apalagi jika dibandingkan dengan reproduksi setelahnya.

Warna permukaan logam terdiri dari 3 jenis patina aslinya, hijau pada baju, coklat perunggu dengan permukaan glossy untuk bagian kulit tubuh dan patina kehitaman doff untuk kucing, rambut dan bagian lain.

De Ranieri yang lahir pada tahun 1865, tidak di ketahui tahun tepat akhir hayatnya, sempat menerima penghargaan pada 1899  atas karyanya yang dipamerkan di Paris Salon ( Biennale senirupa di Prancis yang paling berpengaruh di Eropa pada saat itu ), dan mencapai penurunan produksitas setelah perang dunia pertama, beliau tidak diketahui keberadaannya setelah 1929 ( tahun dari karya terakhir yang tercatat ). Hal yang bisa dianggap tragis, atau bisa juga melankolis,,

1 patung gadis cilik bermain kucing ini :
Zold - Makassar