Home

16 Agustus 2015

JAVANESE CHASED BRASS BOWL












BOKOR KUNINGAN JAWA
Kuningan bermotif ukiran dengan tangan
Akhir abad 19 atau awal abad 20, Jawa
Diameter 29cm, tinggi 15,5cm, berat 2,74 kg
Benda terpakai yg masih baik, ada sedikit-sedikit penyok wajar, patina logam masih original

Benda tradisi yg telah ada sejak abad 18, masih di buat hingga tahun 60an, Tersebar dari pulau Madura, seluruh pulau Jawa, sampai Kalimantan dan Sumatera, bahkan ada di negara tetangga.
Tradisi benda kuningan yg dipengaruhi oleh banyak kebudayaan, Cina, India dan Timur Tengah. Motif 'banji / swastika' adalah salah satu pola yg lumayan familiar di dalamnya. Jarangnya motif hewan dan manusia dipengaruhi tradisi Islam di Nusantara.

Benda ini membutuhkan tingkat 'craftsmanship' yg tinggi untuk membuatnya, ukiran motifnya dibentuk dari pahatan 'pukulan-pukulan' kecil dalam skala milimeter,,menghabiskan puluhan jam kerja dan ketekunan prima. Walaupun memang, tiap benda kuningan tipe seperti ini berbeda-beda kualitasnya, tergantung usia dan keahlian sipembuat.

Bokor atau benda kuningan untuk kalangan tertentu kadang masih dianggap sebagai benda antik yg terlalu lumrah, kurang bernilai, terlalu 'tradisional' dan kurang menarik. Tapi kini ditangan pencinta antik yg lebih kreatif dan berselera lebih maju, benda seperti ini dapat berubah makna dan fungsinya menjadi objek yang sangat artistik dan bercita-rasa tinggi.

Kadang benda-benda yg terbuat dari kuningan seperti ini ada kecendrungan untuk di bersihkan hingga mengkilap, patina yg terbentuk dari oksidasi puluhan sampai ratusan tahun hilang dalam sehari.
Sebenarnya tindakan tersebut berlawanan dengan konsep pemahaman benda antik kalangan tertentu, tak ada satupun 'art dealer' profesional dan kompeten dalam pemahaman benda antik yg berani 'membersihkan' benda antik yg dimilikinya sehingga hilang orisinilitas dan 'value'nya. Juga patina pada benda antik turut membantu untuk mengetahui usia dan keasliannya.

Kadang alasan 'pembersihan' adalah upaya agar benda tidak terlihat kusam / kumuh, padahal solusi untuk hal tersebut jauh lebih sederhana, benda cukup dibersihkan sampai batas wajar, kemudian diberikan cairan pelindung ( seperti wax atau 'pledge' ), hasilnya jauh lebih 'berasa' dan ber'aura' dibanding benda kuningan yg mengkilap total ( kl anda cukup sensitif dalam merasakannya ).

Tapi pendapat tadi memang kembali ke selera masing-masing pribadi, selera yang terbentuk dari pengalaman dan wawasan individu masing-masing. Kebebasan tetap ada ditangan kita.

Zold - Jakarta