Home

September 17, 2015

CHINESE FAMILLE ROSE TEAPOT











TEKO FAMILLE ROSE
Keramik porselen lukis enamel diatas glasir
1920 - 1930an, Cina
Diameter 10,5cm, tinggi  hingga tutup 13,2cm, lebar 14,6cm
Benda terpakai, ada sedikit-sedikit cecel enamel, kawat handle sudah gantian lama, ada 1 chip kecil di tutup teko, ada cuil di kuping pengait atas dan 1 cuil di dasar teko

1 buah teko saja, tampa cawannya :
Zold - Tanggerang

September 9, 2015

DOLLHOUSE MINIATURE FOOD












5 ROTI MAINAN MINIATUR
Keramik porselen dan sejenis keramik 'bisque' dengan warna
1900 - 1930an, Jerman atau Prancis
Marking angka pada semua 'roti'nya
Diameter piring sekitar 7,5cm
Ada cuil pada 2 piring dan 1 roti pecah atasnya ( sudah di lem )

Mainan miniatur kuno yang sudah lumayan langka, banyak yang sudah hancur atau di lupakan, kini menjadi koleksi kebanggaan kolektor boneka dan mainan miniatur. Tehnis, bahan, bau dan pewarnaannya sangat berbeda dengan miniatur sejenis buatan modern.

5 pasang roti dan piring :
Rp 500.000,-

September 4, 2015

CHINESE GREEN GLAZED BOWL














5 MANGKOK MOTIF 18 ARAHAT BUDDHA
Stoneware glasir hijau retak 1000 dengan stamp print biru dibawah glasir
1950an, Cina
Marking 6 karakter huruf Hanji " Da Ming Wanli Nian Zhi'', Ming Wanli dinasty 1573 - 1620, tapi marking ini buatan 1940 - 1950an
Diameter sekitar 16cm, tinggi sekitar 7cm
Benda terpakai yg masih baik, 4 buah utuh, 1 buah ada retak rambut

Mangkok dengan huruf Hanji  " FO" " atau BUDDHISME pada bagian tengahnya. Di eksterior dan interior mangkok dihiasi 18 Arahat Buddha dengan komposisi figur yang berbeda-beda pada setiap mangkok. Mangkok yang lumayan berkarakter. 

Zold - Jakarta

September 1, 2015

DUTCH EAST INDIES CAMPAIGN DESK
















MEJA 'LAPANGAN' NEDERLANDS-INDIE 
Kayu jati berpelitur
1850 - 1900, Jawa ( ? ), Indonesia
Marking stempel bakar ' DZ & Co '
85cm x 65cm, tinggi 89cm
Ada repair lama pada sudut bawah depan meja, ada pelitur ulang lama hanya pada bagian papan atas, ada 1 flex, sedikit cuil dan retak. Rantai pengait untuk mempermudah pemasangan sudah tak ada.

Meja yang biasanya dibawa diatas pelana kuda, dipergunakan untuk kebutuhan militer di medan tempur. Oleh komandan atau panglima pasukan meja ini berfungsi untuk meja makan, tulis menulis atau mengatur strategi. Beredar di era Victorian, meja ini menjadi langka di abad 20, karena hancur dalam pertempuran atau diabaikan karena berubahnya pola kebutuhan militer sesuai perkembangan jaman.

Ukuran meja jenis ini umumnya tidak besar, kebanyakan lebih kecil dari meja ini karena memperhitungkan faktor kepraktisan dan mobilitas tinggi. Berbeda dengan meja "campaign' abad 20 yang berukuran standar meja tulis, karena fungsinya bukan untuk militer, hanya design bentuknya saja yang mengadaptasi meja 'campaign' era Victorian.

Hal yang membuat meja ini menjadi baik bukan hanya keunikan fungsi dan kelangkaannya saja, tapi pelitur yang sebagian besar masih asli adalah faktor penting lainnya. Pelitur pada furniture sangat menentukan persepsi originalitas suatu benda, karena dia adalah cover atau kulit dari benda itu sendiri, yang menyerap semua tanda perubahan waktu dan cuaca dalam rentang usia si benda.

Di Amerika sampai tahun 1960 - 1970 ada suatu persepsi sikap terhadap furniture, yaitu sikap untuk membuat semua benda yang dimiliki terlihat seperti baru, sama seperti seakan-akan baru selesai dibuat pada masanya. Semua patina dan tanda-tanda pemakaian di kerok habis dan dipelitur ulang. Suatu masa yang membuat Amerika kehilangan sebagian besar furniture orisinilnya, kehilangan yang masih ditangisi sampai sekarang oleh kolektor dan pencinta furniture disana.
Sampai detik inipun masih banyak toko antik disana yang mempelitur ulang semua benda yang dimiliki, hal ini tergantung pada kebiasaan, kebutuhan konsumen, kadar selera artistik / cita rasa dan tingkat intelektualitas individunya.

Menemukan suatu benda dengan patina dan oksidasi asli di Indonesia adalah susah-susah gampang, gampang : karena banyak sekali benda furniture antik kita yang tersembunyi atau diabaikan sehingga tak tersentuh untuk di 'bagus-bagusi' oleh pemiliknya. Susah : karena seringnya kerusakan oleh udara tropis yg lembab dan dalam proses revitalisasinya sering jatuh ketangan yang tidak memahami esensi dari originilitas benda itu sendiri.
Oleh karena itu, kalau kita masih menemukan suatu furniture dengan pelitur dan patina aslinya, cermati dan nikmatilah, karena itu adalah 'catatan' perjalanan waktu selama puluhan atau ratusan tahun.

Ref. sebagian dari 'The Big Book Of Antique Furniture' oleh David P. Lindquist & Caroline C. Warren

Zold - Surabaya